Saya tidak percaya dengan cinta pada pandangan pertama tapi saya lebih percaya dengan adanya kebersamaan yang dapat membuat kita mengenal satu sama lain, menerima satu sama lain. Dan dari kebersamaan itulah akan lahirnya cinta.
Itulah yang saya rasakan dengan Rudi dan Hanif. Dan saya adalah orang yang selalu pintar dalam memilih kepada siapa saya akan menjatuhkan hati saya. Karena saya tidak ingin menjatuhkan hati saya ke hati yang ada pemiliknya, tidak ke hati yang bahkan dia sendiri tidak tau siapa yang dia pilih, atau tidak ke hati yang hanya ada ranjau di sekitarnya.
Saya sangat yakin dengan Rudi. Hanya satu hal yang membuat saya ragu, yaitu agama. Dengan alas an itulah saya harus meninggalkan dan menanggalkan cinta saya. Butuh waktu lamauntuk menyadari dan meyakini keputusan itu, apalagi untuk mencari pengganti.
Sampai akhirnya saya bertemu dengan Hanif. Saya bisa menyebutkan sejuta alasan kenapa saya suka dengan dia. Bahkan hanya dialah yang saya panggil dengan sebutan “ayang”, karena saya bukan orang yang gampang mengumbar kata sayang dan cinta.
Hanif sangat sayang dengan ibunya dan dari dialah saya belajar menyayangi ibu saya. Ironis memang, tapi itulah kenyataannya. Saya pikir dialah yang benar-benar saya cintai. Tetapi untuk sekarang ini sangat tidak jelas siapa yang saya suka.
Tapi kalau sekarang Hanif sudah hilang dari pikiran saya, saya merasa gamang. Tidak hampa. Hanya gamang. Seolah saya yang buta arah ini semakin tersesat entah ke mana.
Saya pikir mungkin dengan Anda ya. Mungkin. Tapi saya bukan cewek yang suka dibuai dan diombang-ambingkan dengan kata-kata manis. Bukan dengan kedipan, gombalan, dan lainnya. Saya butuh ketegasan dan kepastian kalau saya lah orangnya.
Tapi kalau kata Uli, saya hanya kagum kepada hanif. Karena apabila kita menyukai seseorang, kita tidak akan tau kenapa kita bisa suka dengan orang itu.


